Makalah: PERTENTANGAN SOSIAL DAN
INTEGRASI MASYARAKAT
ILMU SOSIAL DASAR
Dosen: JUNAEDI ABDILLAH
OLEH:
Risma Permatasari
17115744
Fakultas Sistem Informasi
Universitas Gundarma
2015
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan
kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul "Pertentangan Sosial dan Integrasi
Masyarakat". Tugas makalah ini dibuat guna untuk memenuhi nilai tugas
dalam mata kuliah Ilmu Sosial Dasar pada Fakultas Sistem Informasi.
Saya
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab
itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Setiap
tingkah laku individu satu dengan individu lain pasti berbeda. Individu
bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Tapi apabila
gagal dalam memenuhi kepentingannya akan banyak menimbulkan masalah baik bagi
dirinya maupun bagi lingkungannya. Dan suatu hal yang saling berkaitan, apabila
seorang individu mempunyai prasangka dan akan cenderung membuat sikap untuk
membeda-bedakan. Maka akan terjadi sikap bahwa kebudayaan dirinya lebih baik
daripada kebudayaan orang lain, sehingga timbullah konflik yaitu berusaha untuk
memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan
ancaman atau kekerasan.
Di
dalam kelompok masyarakat Indonesia, konflik dapat disebabkan karena faktor harga
diri dan kebanggaan kelompok terusik, adanya perbedaan pendirian atau sikap,
perbedaan kebudayaan, benturan kepentingan (politik, ekonomi, kekuasaan). Adat
kebiasaan dan tradisi yang hidup dalam masyarakat merupakan tali pengikat
kesatuan perilaku di dalam masyarakat. Suatu kelompok yang ada dalam keadaan
konflik yang berlangsung lama biasanya mengalami disintegrasi. Dan untuk
menyelesaikan semua itu melalui integrasi masyarakat. Integrasi dapat
berlangsung cepat atau lambat karena dipengaruhi oleh faktor homogenitas
kelompok, besar kecilnya kelompok, mobilitas geografis, dan efektifitas
komunikasi.
1.2
Rumusan Masalah
Mengulas
tentang Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat
1.
Perbedaan Kepentingan
2.
Pengertian Diskriminasi
3.
Pengertian Ethosentris
4.
Pertentangan dan Ketegangan dalam
Masyarakat
5.
Golongan-golongan yang berbeda dan
Integrasi Sosial
6.
Integrasi Nasional
1.4
TUJUAN PERMASALAHAN
1.
Agar dapat mengetahui Perbedaan
Kepentingan
2.
Agar dapat mengetahui Pengertian
Diskriminasi dan Ethosentris
3.
Agar dapat mengetahui Pertentangan
dan Ketegangan dalam Masyarakat
4.
Agar dapat mengetahui
Golongan-golongan yang berbeda dan Integrasi Sosial
5.
Agar dapat mengetahui Integrasi
Nasional
6.
Makalah ini ditulis untuk
memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti mata kuliah dan tugas Ilmu
Sosial Dasar
BAB II
PEMBAHASAN
1. Perbedaan Kepentingan
Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku dari individu. Individu bertingkah laku karena adanya dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Kepentingan ini bersifat esensial bagi kelangsungan kehidupan individu itu sendiri. Jika individu berhasil memenuhi kepentingannya, maka mereka akan merasa puas dan sebaliknya bila gagal akan menimbulkan masalah bagi diri senidiri maupun bagi lingkungannya. Individu yang berpegang pada prinsipnya saat bertingkah laku, maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu tersebut dalam masyarakat merupakan kepuasan pemenuhan dari kepentingan tersebut. Oleh karena itu, individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang yang sama persis dalam aspek-aspek pribadinya, baik jasmani maupun rohaninya.
Dengan itu, maka akan muncul perbedaan kepentingan pada setiap individu, seperti:
- Memperoleh kasih sayang
- Memperoleh harga diri
- Memperoleh penghargaan yang sama
- Memperoleh prestasi dan posisi
- Dibutuhkan orang lain
- Memperoleh kedudukan di daam kelompoknya
- Memperoleh rasa aman dan perlindungan diri
- Memperoleh kemerdekaan diri
2.
Pengertian
Diskriminasi
Diskriminasi berasal dari kata
latian prejudicium, yang pengertiannya sekarang mengalami perkembangan sebagia
berikut :
- Semula diartikan sebagai suatu presenden, artinya keputusan diambil atas dasar pengalaman yang lalu.
- Dalam bahas Inggris mengandung arti pengambilan keputusan tanpa penelitian dan pertimbangan yagn cermat, tergesa-gesa atau tidak matang.
- Untuk mengatakan prasangka dipersyaratkan pelibatan unsur-unsur emosilan (suka atau tidak suka) dalam keputusan yang telah diambil tersebut.
Dalam konteks
rasial, prasangka diartikan:”suatu sikap terhadap anggota kelompok etnis atau
ras tertentu, yang terbentuk terlalu cepat tanpa suatu induksi ”. Dalam hal ini
terkandung suatu ketidakadilan dalam arti sikap yang diambilkan dari beberapa
pengalaman dan yang didengarnya, kemudian disimpulkan sebagai sifat dari
anggota seluruh kelompok etnis.
Sebab-sebab timbulnya
prasangka dan diskriminasi :
- Berlatar belakang sejarah
- Dilatar-belakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional
- Bersumber dari faktor kepribadian
- Berlatang belakang perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama
Usaha-usaha mengurangi/menghilangkan prasangka dan diskriminasi :
- Perbaikan kondisi sosial ekonomi
- Perluasan kesempatan belajar
- Sikap terbuka dan sikap lapang
3.
Pengertian
Ethosentrisme Ethosentrisme
Yaitu
suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya
sendiri sebagaai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak dan diepergunakan sebagai
tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.
Etnosentrisme merupakan kecenderungan tak sadar untuk menginterpretasikan atau
menilai kelompok lain dengan tolok ukur kebudayaannya sendiri. Sikap
etnosentrisme dalam tingkah laku berkomunikasi nampak canggung, tidak luwes.
4. Pertentangan dan Ketegangan dalam
Masyarakat
Konflik (pertentangan) cenderung
menimbulkan respon-respon yang bernada ketakutan atau kebencian. Konflik dapat
memberikan aibat yang merusak terhadap diri seseorang, anggota kelompok.
Konflik dapat mengakibatkan kekuatan yang konstuktif dalam hubugan kelompok
Ada 3 elemen dasar yang merupakan ciri-ciri dari situasi konflik
- Terdapat 2 atau lebih unit-unit atau bagian-bagian yang terlihat konflik
- Unit tersebut mempunyai perbedaan yang tajam (kebutuhan, tujuan, masalah, nilai, sikapdan gagasan).
- Terdapat interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut. Terjadinya konflik bisa pada di dalam diri seseorang, di dalam kelompok dan di dalam masyarakat.
1. Elimination Yaitu pengunduran diri dari salah satu pihak yang terlibat di dalam
konflik, diungkapkan dengan “kami mengalah”, “kami keluar”, “kami membentuk
kelompok sendiri”.
2. Subjugation / Domination Yatu orang / pihak yang mepunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang /
pihak lain untuk menaatinya.
3. Majority Rule Yaitu suara terbanyak yang ditentukan dengan votig, akan menentukan keputusan,
tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4. Minority Consent Yaitu kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok minoritas tidak merasa
dikalahkan dan menerima keputusan serta sepakat untuk melakukan kegiatan
bersama.
5. Compromise Yaitu semua sub kelompok yang terlibat di dalam konflik berusaha mencari
dan mendapatkan jalan tengah.
6. Integration Yaitu pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan dan
ditelaah kembali sampai mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua
pihak.
5. Golongan-golongan yang berbeda dan
Integrasi Sosial
Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti
kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi masyarakat dimaknai sebagai proses
penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan
masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki
keserasian fungsi. Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di
mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap
kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan
mereka masing-masing.
Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat
tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupakan tantangan
fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.
1. Asimilasi yaitu pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya
ciri khas kebudayaan asli.
2. Alkulturasi yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa
menghilangkan kebudayaan asli.
1.
Faktor Internal
Faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, karena biasanya
timbul dari suatu perasaan yang dialami oleh seorang individu itu sendiri.
·
Kesadaran diri sebagai
makhluk sosial
·
Tuntutan kebutuhan
·
Jiwa dan semangat
gotong royong
2.
Faktor
External
Faktor yang berasal
dari lua diri individu itu sendiri, karena biasanya timbul dari suatu maslah
yang dialami oleh seorang individu itu sendiri di dalam lingkungan sosialnya.
·
Tuntutan perkembangan
zaman
·
Persamaan kebudayaan
·
Terbukanya kesempatan
beradaptasi dalam kehidupan bersama
·
Persamaan visi, misi
dan tujuan
·
Sikap toleransi
·
Adanya konsensus nilai
·
Adanya tantangan dari
luar
1. Untuk
meningkatkan Integrasi Sosial, maka pada diri msing-masing harus mengendalikan
perbedaan / konflik yang ada pada suatu keuatan bangsa dan bukan sebaliknya.
2. Tiap
warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang
lainnya.
6. Integrasi Nasional
Integrasi Nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari
suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan
masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Selain
itu dapat pula diartikan bahwa integrasi bangsa merupakan kemampuan pemerintah
yang semakin meningkat untuk menerapkan kekuasaannya di seluruh wilayah (Mahfud
MD, 1993: 71).
- Integrasi tidak sama dengan pembauran atau asimilasi.
- Integrasi diartikan integrasi kebudayaan, integrasi sosial, dan pluralisme sosial.
- Pembauran dapat berarti asimilasi dan amalganasi.
- Integrasi kebudayaan berarti penyesuaian antar dua atau lebih kebudayaan mengenai berapa unsur kebudayaan (cultural traits) mereka, yang berbeda atau bertentangan, agar dapat dibentuk menjadi suatu sistem kebudayaan yang selaras (harmonis).
·
Melalui difusi (penyebaran), di mana-mana unsur kebudayaan baru diserap ke
dalam suatu kebudayaan yang berada dalam keadaan konflik dengan unsur
kebudayaan tradisional tertentu.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Di setiap masyarakat pasti muncul pertentangan-pertentangan
atau permasalahan-permasalahan, di antaranya:
1. Perbedaan Kepentingan: ada 2 kepentingan dalam diri individu, yakni
kepentingan biologis dan kepentingan sosial/psikologis.
2. Perbedaan Kepentingan: ada 2 kepentingan dalam diri
individu, yakni kepentingan biologis dan kepentingan sosial/psikologis.
3. Prasangka dan Diskriminatif: prasangka yang
menunjukkan aspek sikap sedangkan diskriminatif pada tindakan.
4. Ethnosentrisme dan Stereotype
- · Ethnosentrisme : kebudayaan dirinya lebih unggul dari kebudayaan lainnya.
- · Stereotype : gambaran dan anggapan jelek.
5. Konflik dalam kelompok: Suatu tingkah laku yang
dibedakan emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya.
Cara pengendalian dari permasalahan-permasalahan di
atas, yaitu melalui integrasi masyarakat dan nasional, yang mengandung
pengertian:
1. Integrasi
Masyarakat: adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat.
2. Integrasi
Nasional: organisasi-organisasi formal melalui mana masyarakat menjalankan
keputusan-keputusan yang berwenang.
B.
SARAN
Demikianlah
tugas penyusunan makalah ini saya persembahkan. Harapan saya dengan adanya
tulisan ini bisa menjadikan kita untuk lebih menyadari bahwa agama Islam
memiliki khazanah keilmuan yang sangat dalam untuk mengembangkan potensi yang
ada di alam ini dan merupakan langkah awal untuk membuka cakrawala keilmuan
kita, agar kita menjadi seorang muslim yang bijak sekaligus intelek. Serta
dengan harapan dapat bermanfaat dan bisa difahami oleh para pembaca. Kritik dan
saran sangat kami harapkan dari para pembaca, khususnya dari Para Dosen yang
telah membimbing saya dan para Mahasiswa demi kesempurnaan makalah ini. Apabila
ada kekurangan dalam penyusunan makalah ini, saya mohon maaf.
DAFTAR PUSTAKA